Olah Raga, Olah Jiwa

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya

Membaca Sedari Muda

Membaca : Membuka Cakrawala Dunia

Yang Muda Yang Berkarya

Berikan aku 10 Pemuda kan ku guncang dunia

Profesional

Kenali Diri, Kembangkan Diri, Jadilah Profesional

Belajar Sepanjang Hayat

Belajar sepanjang waktu, belajar dimanapun berada

6 Maret 2012

supberinergy - Belajar dari 'Sahabat'

Belajar dari ‘Sahabat’

Pernahkan Anda terjebak di kamar mandi? Semoga ci jangan sampai he..he.. Bagi Anda yang pernah terjebak, mungkin Anda akan berteriak sekeras-kerasnya sampai muka Anda merah padam plus kebingungan…betul?.

Saya pernah membaca sebuah kisah seorang yang terjebak di kamar mandi, kemudian apa yang ia lakukan?tentu saja.. ia minta tolong dengan memangggil teman-temannya. Yap…akhirnya dengan bantuan teman-temannya, ia bisa keluar dari kamar mandi tersebut.

Teman, kawan, friend, kanca, sahabat atau kata yang sepadan dengan itu adalah kata yang sering kita dengar, karena hampir setiap hari kita bersosialisasi dan berinteraksi dengan mereka.

Lantas apa arti sahabat?
Saya pernah bertanya (apa arti sahabat?) kepada beberapa teman lewat layanan sms, dan berikut beberapa pendapat teman-teman tentang arti sahabat :
1. Sahabat adalah yang mengingatkan kita ketika lupa, yang membangunkan kita ketika jatuh, yang membuat kita tersenyum ketika kita sedih, dan mensupport kita ketika down.
2. Sahabat adalah orang yang senantiasa ada, baik dalam susah maupun senang, sahabat adalah yang mengingatkan apabila kita salah, sahabat adalah yang bahagia apabila kita dapat kebahagiaan.
3. Sahabat adalah yang selalu berkata benar kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu.
4. Sahabat adalah orang yang mau menerima/mengingatkan kita diwaktu senang/duka, tapi kita juga harus ingat bahwa sahabat “JUGA MANUSIA”
5. Sahabat: orang yang mau menyuburkan kembali kegersangan hati kita dan bersamanya kita menjadi semangat dalam menempuh perjuangan.
6. Sahabat bukanlah seseorang yang telah lama kita kenal, bukan dia yang datang pertama atau siapa yang paling peduli, tetapi sahabat adalah seseorang yang datang dan tidak pernah pergi meninggalkan kita.
7. Sahabat adalah sesuatu yang sangat berharga dari sebuah cinta, karena cinta sering pergi dan meninggalkan kita, dan sahabat [dia] akan selalu menasehati kepada yang haq.
8. Sahabat ada dikala susah dan senang. Ada bukan hanya saat kita sedang berpunya namun sahabat sejati ada saat kita sedang membutuhkannya.

Pendapat di atas sungguh luar biasa, yap…sahabat memang memiliki arti yang luar biasa. Sahabat adalah seseorang yang sangat berharga. Maka pantaslah ada kata-kata yang bisa menunjukkan pentingnya seorang sahabat :
Dalam sebuah sms “ Allah sungguh bijak, sehingga Ia menciptakan seorang teman tanpa harga, karena jika Allah memberikan harga, aku takkan mampu untuk membeli teman yang berharga seperti kamu…”

Bagi Anda yang mempunyai banyak teman tentu ini menunjukkan Anda memiliki kualitas diri yang baik, tapi tunggu dulu…sahabat yang seperti apa yang ada punyai..? sahabat sejatikah…?

Sahabat sejati adalah sahabat yang tetap menemani baik suka maupun duka, Sahabat yang baik ibarat penjual minyak wangi, didekatnya kita akan ikut merasakan wanginya. Sahabat yang selalu mengingatkan ketika kita salah dan keliru, sahabat yang menghibur ketika kita bersedih. Sahabat yang berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Apabila kita bertemu atau teringat dengan dia kita akan mengenal kebaikannya

Terima kasih sahabatku…
Karena sahabat pulalah saya bisa mengenal karakter diri, Karena sahabat pula saya bisa berkesempatan, bisa mengembangkan diri. Karena sahabat pulalah inspirasi saya untuk menulis, Karena sahabat pulalah saya mengenal cinta, kasih sayang dan berterima kasih, Karena sahabat pula, saya bisa tertawa, Karena sahabat pula saya bisa marah, saya kesal, Karena sahabat pula saya bisa termotivasi untuk menggapai cita-cita.
Kepada sahabat saya bisa minta tolong, bisa bercerita, mencurahkan isi hati, kepada sahabat saya bisa memberikan sesuatu yang saya punya dan saya bisa.
Bersama sahabat, saya bisa beramal. Dengan sahabat pula, saya bisa berpetualang ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, dengan sahabat pula saya pernah merasakan “terjatuh dari motor”, dengan sahabat pula saya belajar banyak hal. Bersama sahabat saya bisa jalan-jalan, makan bersama, membuat proyek, melaksanakan kegiatan.

Maafkan aku sahabatku…
Karena egoisnya diriku, engkau jadi marah. Karena kebodohanku, engkau jadi merasa malu. Karena kenekatanku, engkau jadi merasa bersalah. Karena keterlambatanku, agendamu jadi berantakan. Karena ketidakhadiranku, semuanya jadi kacau.
Sebagai penutup tulisan ini, saya kutipkan sebuah kata mutiara dari sebuah SMS :
“Indahnya hidup bukan karena seberapa banyak orang mengenal kita, namun seberapa banyak orang bahagia mengenal kita”.[]

Metamorfosa - Reputasi atau Popularitas?

Reputasi atau Popularitas?

HD Iriyanto (Inspirator Metamorphosis; Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Salam Metmorfosa, Salam Perubahan…
Ada sebuah kalimat inspiratif yang saya baca di sebuah majalah bisnis. Kalimat itu diucapkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman. Bunyinya adalah, “Anda dapat mencapai apa pun dalam hidup, sepanjang Anda tidak keberatan siapa yang mendapat nama.”

Sementara dalam sumber bacaan lainnya, Jim Collins mengungkapkan bahwa menjadi pemimpin yang hebat (great leader) merupakan perpaduan yang anggun antara kegigihan professional dan kerendahan hati.

Maksudnya tidak lain adalah, seorang pemimpin yang hebat selalu berupaya untuk menunjukkan kegigihan professional dalam mencapai misi dan visinya, seberapa pun besarnya tantangan yang dihadappi. Sebab ia menyadari bahwa pemimpin adalah ujung tombak dalam menciptakan hari esok yang lebih baik.

Sebaliknya, ia akan menunjukkan kerendahan hatiannya ketika harus membicarkan dirinya dan apa-apa yang telah diraihnya. Meskipun orang banyak telah mengakui berbagai karya dan prestasinya yang luar biasa.

Para pembaca yang siap berubah menjadi baik…
Sekedar menyebut contoh, saya ingin mengatakan bahwa Wali Kota Solo adalah salah satunya. Anda tentu masih ingat dengan apa yang dikatakan kepada wartawan saat ada ‘ketegangan’ dengan Gubernur Jawa Tengah perihal bekas bangunan pabrik es. Waktu itu dia mengatakan bahwa dia memang bodoh, sehingga warga Solo pun termasuk bodoh karena memilih orang bodoh untuk menjadi wali kota.

Tapi Anda tentu sependapat dengan saya, bahwa itu semua merupakan pertanda betapa sang wali kota memang orang yang rendah hati (humble). Sebab, jika kita berbicara tentang karya dan prestasinya sebagai wali kota, tak ada seorang pun yang membantahnya. Bahkan oleh salah satu majalah bisnis yang memilih Indonesia Best Local Government Leaders 2011, Wali Kota Solo terpilih sebagai peringkat tertinggi.

Itu semua menunjukkan kepada kita bahwa reputasi yang dibangun atas dasar prestasi (kegigihan professional) dan sikap rendah hati ternyata mampu mendongkrak popularitas seseorang. Karena sesungguhnya popularitas itu hanyalah konsekuensi dari suatu reputasi. Maka siapa pun yang sanggup membangun reputasi yang hebat, dengan sendirinya ia akan memperoleh popularitas.

Namun sebaliknya, jika seseorang mengejar popularitas, apalagi lewat cara-cara instan atau sensasi-sensasi murahan dan tidak etis, maka percayalah, popularitas itu tidak akan bertahan lama. Karena itu, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, Anda harus memperhatikan betul reputasi (rekam jejak) Anda.

Anda tidak bisa lagi mendongkrak popularitas Anda dengan cara-cara instan. Publisitas melalui media massa atau baliho-baliho besar memang tetap diperlukan. Namun lebih dari itu, karya dan prestasi Anda merupakan pertimbangan utama bagi orang lain dalam menilai seberapa pantas Anda disebut sebagai pemimpin. Ingat, negeri ini sangat membutuhkan pemimpin yang memiliki kegigihan professional yang tinggi, namun tetap memiliki sikap yang rendah hati.

Keep smile & be better.[]
Sumber : Republika, 22 Agustus 2011

15 Juni 2011

Metamorfosa - Mendidik Diri Sendiri

Mendidik Diri Sendiri

Oleh : HD Iriyanto (Motivator & Inspirator Religiospiritual, Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Mendidik, menurut Ki Hajar Dewantara, adalah aktivitas menuntun para murid agar mereka tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat. Kata menuntun memberi pengertian kepada kita bahwa di dalam proses mendidik, seorang guru haruslah sabar dalam memberikan bimbingan kepada murid-muridnya.

Sedang kata selamat dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat, memberi makna tersirat bahwa mendidik itu tak sekedar membuat murid menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga harus cerdas secara emosi dan spiritualnya. Karena mendidik pada umumnya ditujukan kepada orang lain, maka mendidik diri sendiri merupakan hal yang jarang kita dengar.

Padahal dari sisi urgensi dan arti pentingnya, mendidik diri sendiri justru menjadi hal yang lebih utama. Apalagi jika kita kaitkan dengan fenomena yang berkembang saat ini, di mana banyak orang sangat piawai ketika harus mendidik orang lain, namun gagal mendidik dirinya sendiri.

Lalu, materi pendidikan apa saja yang perlu kita berikan kepada diri kita sendiri, agar kita tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia, baik dunia dan akhirat? Di antara sekian banyak hal yang kita perlukan saat ini, menurut saya, kejujuranlah yang harus menjadi prioritas pertama. Meskipun tidak mudah, tapi tetap harus diperjuangkan. Sebab kejujuran akan membuat hidup kita tenteram, damai, dan sejahtera.

Mendidik diri kita untuk menjadi orang yang jujur, dapat kita lakukan dengan menjalani setiap proses dengan benar dan lurus. Tanpa rekayasa dan tanpa manipulasi. Sebab, sekali saja kita melakukan rekayasa dan manipulasi, kita akan terus dipaksa untuk melakukan hal yang sama agar rekayasa dan manipulasi kita tidak terbongkar. Sehingga benar apa yang sering dikatakan orang, sekali berbohong akan segera diikuti kebohongan berikutnya.

Tenggang rasa berada di urutan berikutnya. Sebab, melalui tenggang rasa, orang bisa dengan mudah dan lapang hati menerima perbedaan. Baik itu perbedaan pendapat, perbedaan keyakinan, perbedaan budaya, dan adat istiadat, perbedaan agama, maupun perbedaan-perbedaan lainnya.

Sebagai warga dari sebuah bangsabyeng begitu pluralis, sikap dan perilaku tenggang rasa menjadi demikian penting. Bukankah berbagai konflik yang seing terjadi di Tanah Air kita, salah satunya disebabkan karena rendahnya sikap dan perilaku tenggang rasa ini?
Adapun prioritas berikutnya yang perlu kita didikkan kepada diri kita adalah kesediaan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Sikap dan perilaku mulia ini memang sangat terasa saat sebagian warga bangsa ini sedang mengalami musibah. Persoalannya, apakah sikap dan perilaku ini hanya akan muncul jika sedang terkena musibah saja? Bagaimana jika situasinya aman-aman saja? Apakah sikap dan perilaku egois akan kembali mewarnai kepribadian kita?

Mendidik diri sendiri, mungkin sangat kecil dampaknya bagi perbaikan kehidupan bangsa yang carut marut ini. Namun jika hal ini dilakukan secara kolektif, bukannya tidak mungkin berbagai persoalan bangsa, bisa terurai sedikit demi sedikit. Insya Allah.

[Sumber : Republika, 2 Mei 2011]

Metamorfosa - Keep Moving

Keep Moving
Oleh : HD Iriyanto (Motivator & Inspirator Religiospiritual, Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Sekali waktu Anda perlu mengamati hal-hal kecil di sekitar Anda. Dari situ, mungkin saja Anda akan mendapatkan pelajaran berharga. Saya ambil contoh, coba Anda amati apa perbedaan air yang terus mengalir dengan air yang menggenang. Air yang terus mengalir alias terus bergerak akan membawa dirinya sampai ke muara. Tapi air yang terus menggenang, boro-boro akan mencapai muara, keberadaannya justru akan menjadi sumber penyakit. Ia akan menjadi sumber bau yang tak sedap, sekaligus bisa menjadi sarang berkembangbiaknya nyamuk.

Contoh lainnya adalah binatang buruan. Bagi kijang yang terus bergerak, akan sulit dibidik oleh seorang pemburu yang mengincarnya. Tapi bagi kijang yang banyak diam, tidak bergerak, akan memudahkan seorang pemburu menembaknya. Begitu pula -maaf- seseorang yang telah masuk DPO (daftar pencarian orang). Jika ia terus bergerak, akan sulit bagi polisi atau aparat lainnya untuk menemukannya. Berbeda dengan ketika ia terus diam di tempat tinggalnya. Ia pasti akan lebih mudah di temukan.
Apa arti semua itu? Terus bergerak (keep moving) adalah kunci bagi pencapaian tujuan. Bahkan terus bergerak sesungguhnya kodrat bagi setiap makhluk. Bumi yang terus berputar, angin yang terus berhembus, awan yang terus berarak, merupakan betapa semua makhluk ciptaan allah itu bergerak. Sehingga siapapun Anda, harus terus bergerak jika Anda ingin mencapai tujuan yang Anda harapkan. Terus bergerak, karenanya, perlu menjadi tekad dan semangat setiap orang. Tak terkecuali juga bagi organisasi atau perusahaan.

Individu atau organisasi yang terus bergerak adalah individu dan organisasi yang terus belajar dan terus berbuat. Sebab, ilmu pengetahuan, keterampilan, taktik dan strategi yang sudah dimiliki seseorang atau organisasi tidak pernah menjamin dirinya bisa tetap eksis. Bahkan setiap keberhasilan di masa lalu pun tidak pernah menjamin keberhasilan serupa pada masa mendatang.

Coba simak pernyataan Jack Welch berikut ini, “…jangan terlena dengan keunggulan yang telah diperoleh. Jangan berasumsi bahwa bisinis akan berjalan dengan sendirinya, atau bahwa angka-angka yang baik di triwulan terakhir otomatis akan menjadi lebih baik di triwulan berikutnya…” atau resapi ungkapan yang ditulis Renald Kasali berikut ini, “…awalnya Andalah yang membentuk kebiasaan. Lambat laun kebiasaanlah yang membentuk diri Anda. Jika Anda berulangkali menggunakan cara yang sama, Anda akan kehilangan kreativitas Anda. Ketajaman Anda akan berubah menjadi tumpul…”.

Apa yang diungkapkan mantan CEO General Electric maupun pakar menejemen strategis tadi , pada intinya memberikan pesan bahwa setiap pribadi atau organisasi memang harus terus bergerak. Ini pulalah yang dilakukan oleh individu dan organisasi hebat. Mereka terus bergerak memperbaiki kualitas hidup dan dan kualitas kerja mereka. Tak peduli betapa berat dan beresikonya pergerakan yang harus mereka tempuh. Karena mereka percaya bahwa cara lama, taktik, dan strategi lama hanya akan menghasilkan performa yang lama. Jika ingin meningkat, apalagi melesat, siapa pun kita harus bertekad untuk terus bergerak…terus maju dan terus mendaki.

[Sumber : Republika, 9 Mei 2011]